Mengenang Andi Baso Zulkarnain: Sebuah Teladan Kesantunan dan Pengabdian di Panggung Politik Bulukumba
NEWS UJUNG BULU– Kabar meninggalnya Andi Baso Zulkarnain Djalal, atau yang lebih akrab disapa ABZ, telah menyisakan lara dan kesan mendalam bagi segenap keluarga, rekan sejawat, dan masyarakat yang mengenalnya. Sosoknya yang telah tiga periode membaktikan diri sebagai anggota DPRD Bulukumba bukan hanya sekadar nama dalam daftar legislatif, melainkan sebuah institusi yang mewakili nilai-nilai ketulusan, keramahan, dan dedikasi sejati bagi kemajuan daerahnya.
ABZ tutup usia, meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada sekadar kebijakan yang ia tolak; ia meninggalkan teladan tentang bagaimana berpolitik dengan hati, bagaimana menjadi wakil rakyat yang benar-benar dekat dengan rakyatnya.
Sebuah Perjalanan Panjang Pengabdian
Karir legislatif ABZ adalah bukti dari konsistensi dan kepercayaan yang berulang kali diberikan oleh rakyat Bulukumba kepadanya. Perjalanan panjangnya dimulai pada era reformasi, tepatnya pada Priode 2004-2009. Pada masa itu, ia memulai langkah pertamanya di gedung dewan, belajar memahami kompleksitas pembangunan daerah dan aspirasi konstituen.
Keberhasilannya di periode pertama bukanlah akhir, melainkan justru batu pijakan untuk pengabdian yang lebih dalam. Kepercayaan masyarakat kembali ia raih untuk Priode 2009-2014, mengukuhkannya sebagai figur yang diperhitungkan. Puncak dari kontinuitas pengabdiannya adalah ketika ia kembali terpilih untuk Priode 2014-2019. Tiga periode berturut-turut bukanlah pencapaian yang mudah; itu adalah mandat yang harus diperjuangkan dan dipertanggungjawabkan setiap harinya, sebuah bukti bahwa rakyat merasa terwakili dan didengar olehnya.
Loyalitas dan Dinamika Berpartai
Dalam perjalanan politiknya, ABZ dikenal sebagai pribadi yang loyal namun juga dinamis. Sebagian besar kariernya dihabiskan dengan bergabung di Partai Demokrat, di mana ia tumbuh dan menjadi salah satu andalan partai di tingkat daerah. Pengetahuannya yang mendalam tentang seluk-beluk politik lokal menjadikannya asset berharga.

Baca Juga: Curanmor di Bulukumba Ditembak Kakinya Saat Berusaha Kabur
Pada pemilihan terakhir, semangatnya untuk terus mengabdi tidak pernah pudar. Ia pun bergabung dan menjadi calon dari Partai Perindo. Meskipun pada akhirnya gagal meraih kursi, hal itu sama sekali tidak mengurangi nilai pengabdiannya yang telah terbukti selama belasan tahun. Kegagalan itu justru menunjukkan semangat pantang menyerah seorang senior yang masih ingin turun langsung ke gelanggang, memperjuangkan apa yang diyakininya.
Kenangan dari Rekan Seperjuangan: Sosok yang Ramah, Baik, dan Visioner
Kesedihan atas kepergian ABZ paling terasa di kalangan rekan-rekan seperjuangannya sesama mantan anggota DPRD. Juharta, mantan anggota DPRD Bulukumba, menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam. Melalui keterangannya, ia menggambarkan ABZ sebagai sosok yang ramah dan baik semasa hidupnya. Lebih dari sekadar kolega yang santun, ABZ adalah seorang pejuang.
“Beliau salah satu andalan DPRD Bulukumba di masanya. Banyak hal yang beliau perjuangkan untuk rakyat Bulukumba,” kenang Juharta, menegaskan bahwa kontribusi ABZ bersifat substansial dan berorientasi pada rakyat.



